INDONESIA DALAM MENGHADAPI MEA
BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Pertumbuhan ekonomi suatu negara
merupakan hal yang sangat penting dicapai karena setiap negara menginginkan
adanya proses perubahan perekonomian yang lebih baik dan ini akan menjadi
indikator keberhasilan pembangunan ekonomi suatu negara. Dalam hal mempercepat
pertumbuhan ekonomi ada banyak hal yang menjadi jalan keluar agar dapat memacu
percepatan tersebut, mulai dari melakukan pembenahan internal kondisi
perekonomian disuatu negara bahkan sampai melakukan kerjasama
internasional dalam segala bidang untuk dapat memberikan kontribusi positif
demi percepatan pertumbuhan ekonomi. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi
pertumbuhan ekonomi yaitu faktor sumber daya manusia, faktor sumber daya alam,
faktor ilmu pengetahuan dan teknologi, faktor budaya dan faktor daya
modal. Lalu kita dapat melihat bagaimana ke-lima faktor tersebut sudah secara
maksimal dikelola, faktanya ada beberapa negara di kawasan Asia Tenggara yang
masih terbelakang dalam pengelolaan beberapa faktor tersebut walaupun kita juga
dapat melihat beberapa negara lainnya sudah cukup mampu mengelola dengan baik.
Jika melihat bagaimana Indonesia mengelola kelima faktor tersebut,
beberapa faktor masih belum dapat dimaksimalkan untuk itu Indonesia dan
sembilan negara lainnya membentuk ASEAN Community 2015 atau Komunitas ASEAN
2015 dengan tujuan yang baik. MEA adalah bentuk integrasi ekonomi ASEAN dalam
artian adanya system perdagaangan bebas antara Negara-negara asean. Indonesia
dan sembilan negara anggota ASEAN lainnya telah menyepakati perjanjian
Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) atau ASEAN Economic Community (AEC). Maka dari
itu saya mencoba membuat suatu pemaparan mengenai Masyarakat Ekonomi Asean
(MEA) dalam sebuah makalah yang berjudul “Menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean
(MEA) Tahun 2015 “.
- Rumusan Masalah
1.2.1 Apa Peluang
Ekonomi Islam Dalam Menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) 2015 ?
1.2.2 Apa
Tantangan Ekonomi Islam Dalam Menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) 2015 ?
1.2.3 Apa
Persiapan Indonesia Dalam Menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) 2015
?
1.2.4 Apa Dampak
Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) Terhadap Masyarakat ?
1.2.5 Bagaimana
Pendapat Masyarakat Indonesia Dalam Menanggapi Hal ini ?
1.3
Maksud dan Tujuan
Sebagai warga negara Indonesia,
dimana Indonesia merupakan salah satu negara yang menjadi anggota dari
Komunitas Ekonomi ASEAN 2015 kita sepatutnya memiliki pemahaman mengenai
segala hal yang menjadi cakupan dan tujuan dari diadakannya Komunitas Ekonomi
ASEAN 2015 sehingga kita mempunyai pandangan dan penilaian terhadap Komunitas
Ekonomi ASEAN 2015 serta mengetahui hal-hal yang perlu dipersiapkan untuk
menyambut era Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015. Dan mengetahui Peluang Dan Tantangan
Ekonomi Islam Dalam Menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) 2015. Disamping
itu makalah ini disusun untuk mengikuti 3 makalah terbaik dalam acara kuliah
umum yang diselenggarakan pada 11 November 2014 di Rektorat Lantai 3.
1.4
Manfaat Makalah
1.4.1 Dapat
Mengetahui Peluang Ekonomi Islam Dalam Menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean
(MEA) 2015 ?
1.4.2 Dapat
Mengetahui Tantangan Ekonomi Islam Dalam Menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean
(MEA) 2015 ?
1.4.3 Dapat
Mengetahui Pendapat Masyarakat Indonesia Dalam Menanggapi Hal ini ?
1.4.4 Dampak
Masyarakat Ekonomi Asean Terhadap Masyarakat di Indonesia ?
1.4.5 Persiapan
Pemerintah Dalam Menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) 2015 ?
BAB II
PEMBAHASAN
2.1
Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA).
MEA adalah bentuk integrasi ekonomi
ASEAN dalam artian adanya system perdagaangan bebas antara Negara-negara asean.
Indonesia dan sembilan negara anggota ASEAN lainnya telah menyepakati
perjanjian Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) atau ASEAN Economic Community (AEC).
Pada KTT di Kuala Lumpur pada Desember 1997 Para Pemimpin ASEAN
memutuskan untuk mengubah ASEAN menjadi kawasan yang stabil, makmur, dan sangat
kompetitif dengan perkembangan ekonomi yang adil, dan mengurangi kemiskinan dan
kesenjangan sosial-ekonomi. Pada KTT Bali pada bulan Oktober 2003, para
pemimpin ASEAN menyatakan bahwa Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) akan menjadi
tujuan dari integrasi ekonomi regional pada tahun 2020, ASEAN Security
Community dan Komunitas Sosial-Budaya ASEAN dua pilar yang tidak terpisahkan
dari Komunitas ASEAN. Semua pihak diharapkan untuk bekerja secara yang kuat
dalam membangun Komunitas ASEAN(2020).
Selanjutnya, Pertemuan Menteri
Ekonomi ASEAN yang diselenggarakan pada bulan Agustus 2006 di Kuala Lumpur,
Malaysia, sepakat untuk memajukan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) dengan target
yang jelas dan jadwal untuk pelaksanaan.
Pada KTT ASEAN ke-12 pada bulan Januari 2007, para Pemimpin menegaskan komitmen mereka yang kuat untuk mempercepat pembentukan Komunitas ASEAN pada tahun 2015 yang diusulkan di ASEAN Visi 2020 dan ASEAN Concord II, dan menandatangani Deklarasi Cebu tentang Percepatan Pembentukan Komunitas ASEAN pada tahun 2015 Secara khusus, para pemimpin sepakat untuk mempercepat pembentukan Komunitas Ekonomi ASEAN pada tahun 2015 dan untuk mengubah ASEAN menjadi daerah dengan perdagangan bebas barang, jasa, investasi, tenaga kerja terampil, dan aliran modal yang lebih bebas.
Pada KTT ASEAN ke-12 pada bulan Januari 2007, para Pemimpin menegaskan komitmen mereka yang kuat untuk mempercepat pembentukan Komunitas ASEAN pada tahun 2015 yang diusulkan di ASEAN Visi 2020 dan ASEAN Concord II, dan menandatangani Deklarasi Cebu tentang Percepatan Pembentukan Komunitas ASEAN pada tahun 2015 Secara khusus, para pemimpin sepakat untuk mempercepat pembentukan Komunitas Ekonomi ASEAN pada tahun 2015 dan untuk mengubah ASEAN menjadi daerah dengan perdagangan bebas barang, jasa, investasi, tenaga kerja terampil, dan aliran modal yang lebih bebas.
2.2
Ekonomi ASEAN 2015
Indonesia akan memasuki era
Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015, dimana dengan tujuan yang baik itu diharapkan
mampu membawa perubahan untuk pertumbuhan ekonomi di Indonesia agar lebih baik.
Apabila kita melihat lebih jauh dibalik tujuan untuk meningkatkan stabilitas
perekonomian antar negara ASEAN artinya sisi lain yang dapat kita lihat bahwa
sama saja seperti meliberalisasikan arus barang, tenaga kerja, investasi dan
modal. Liberalisasi arus barang artinya akan terjadi pengurangan dan
penghilangan hambatan tarif. Liberalisasi modal akan dilakukan dengan
meniadakan aturan administrasi yang menghambat penanaman modal, artinya
semua orang yang masuk kawasan ASEAN dapat menanamkan. modalnya dinegara ASEAN
secara lebih mudah. Selain itu adanya liberalisasi tenaga kerja dimana kita
bebas mencari lapangan pekerjaan tidak hanya di dalam negeri melainkan
dikawasan ASEAN.
2.3
Tujuan Ekonomi ASEAN 2015
Tujuan dibuatnya Ekonomi ASEAN 2015
yaitu untuk meningkatkan stabilitas perekonomian dikawasan ASEAN, dengan
dibentuknya kawasan ekonomi ASEAN 2015 ini diharapkan mampu mengatasi
masalah-masalah dibidang ekonomi antar negara ASEAN, dan untuk di Indonesia
diharapkan tidak terjadi lagi krisis seperti tahun 1997.
2.4
Kesiapan Indonesia dalam Menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015
Dalam beberapa hal, Indonesia
dinilai belum siap menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015. Namun banyak
peluang yang dapat kita lihat dari Ekonomi ASEAN 2015 ini. Banyak kalangan yang
merasa ragu dengan kesiapan Indonesia dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN
2015. Dalam kekhawatiran mengenai terhantamnya sektor-sektor usaha dalam negeri
kita, jika kita mengingat bagaimana hubungan bilateral Indonesia dengan China.
Kini China mampu menguasi pasar domestik kita yang pada akhirnya dapat
mengganggu stabilitas Indonesia. Tentunya hal ini tidak ingin terjadi pada
Indonesia apabila era Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015 nanti akan membuat semakin
terpuruknya usaha-usaha dan produk lokal. Kita tidak ingin sektor usaha
khususnya kelas mikro, kecil dan menengah harus mati karena tidak mampu
bersaing dengan masuknya produk dari sembilan negara lainnya. Banyak hal yang
bisa dilakukan untuk menyelamatkan produk dalam negeri oleh pemerintah,
namun hal terpenting yang sebaiknya dilakukan adalah meningkatkan daya saing
Indonesia. Berdasarkan fakta peringkat daya saing Indonesia periode 2012-2013
berada diposisi 50 dari 144 negara, masih berada dibawah Singapura yang
diposisi kedua, Malaysia diposisi ke dua puluh lima, Brunei diposisi dua puluh
delapan, dan Thailand diposisi tiga puluh delapan. Melihat kondisi
seperti ini, ada beberapa hal yang menjadi faktor rendahnya daya saing
Indonesia menurut kajian Kementerian Perindustrian RI yaitu kinerja logistik,
tarif pajak, suku bunga bank, serta produktivitas tenaga kerja. Jika kita
menilai terlihat industri Indonesia masih belum siap untuk menghadapi era
Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015 karena masih banyaknya masalah yang belum menemui
titik terang seperti lemahnya terhadap pengawasan produk-produk impor,
penyelundupan, isu keamanan yang mengganggu investasi, serta mahalnya tarif
terminal handling charge.
Ada beberapa cabang industri yang
perlu ditingkatkan daya saingnya agar dapat mengamankan pasar dalam negeri
yaitu cabang otomotif, elektronik, pakaian jadi, alas kaki, makanan dan
minuman, serta funitur. Mungkin beberapa cabang industri lain Indonesia masih
lebih unggul dari negara tetangga akan tetapi pada sektor industri jasa
Indonesia dianggap sama sekali tidak memiliki.
keunggulan. Tantangan lain dalam
sektor industri adalah mengenai upah minimum, kepastian hukum, biaya
transportasi barang terlampau mahal. Kekhawatiran lain juga terjadi akibat
lemahnya daya saing sumber daya manusia bangsa, hal ini tercermin dalam
rendahnya kualitas SDM di Indonesia. Berdasarkan fakta yang dirilis Human
Development Index
Indonesia masih berada di posisi 121
dari 185 negara, itu artinya masih perlu pembenahan dalam memaksimalkan daya
saing SDM di Indonesia melalui kesempatan pendidikan, dan kesehatan. Masalah
yang kita lihat mengenai kualitas SDM sebenarnya hanyalah salah satu masalah
mendasar yang dialami Indonesia. Tanpa SDM yang berkualitas rakyat didaerah
tidak mampu mengolah kekayaan alam yang berlimpah menjadi produk yang bernilai
ekspor. Peningkatan SDM yang masih menjadi pekerjaan rumah bangsa Indonesia ini
tak kunjung usai. Apabila era Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015 nanti telah datang,
kita mesti sadar bahwa semua ini menuntut kita untuk bisa meningkatkan kualitas
SDM jika tidak jangan berharap bahwa era Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015 menjadi
peluang besar, bisa jadi akan menimbulkan masalah yang sama tapi lebih besar.
Contoh dari kasus yang terjadi nanti ketika memasuki era Masyarakat Ekonomi
ASEAN 2015 dimana semua tenaga kerja dapat mencari pekerjaan dikawasan ASEAN
dengan beberapa profesi yang disepakati untuk bebas bekerja di negara-negara
ASEAN seperti perawat, arsitek, dokter, akuntan, dan lain-lain dan segala
kemudahan yang didapat namun masalah yang dipastikan akan terjadi apabila SDM
di Indonesia tidak mampu bersaing mendapatkan pekerjaan tersebut, bisa kita
bayangkan berapa persentase pengangguran dengan sebagian kecil orang yang mampu
bersaing dengan sembilan negara lainnya, sudah pasti tingkat pengganguran
akan jauh lebih besar. Dalam waktu yang cukup singkat ini sebelum memasuki era
Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015, bangsa Indonesia sebaiknya berbenah untuk
memperbaiki kualitas SDM melalui mutu pendidikan yang merata tanpa kesenjangan
sehingga kita akan percaya diri untuk bersaing dengan bangsa lain. Selain dua
hal tersebut kekhawatiran lain muncul dari segi infrastruktur, menurut data
kementerian keuangan anggaran infrastruktur tahun ini mncapai 206 triliun
rupiah atau naik dibanding tahun lalu, namun rasionya masih dibawah 2% dari PDB
meskipun setiap tahun anggaran infrastruktur mengalami kenaikan tetap belum
signifikan untuk meningkatkan pembangunan. Minimnya anggaran
infrastruktur dan masalah regulasi yang kurang jelas.
membuat pembangunan infrastruktur
terhambat. Padahal apabila ada kejelasan regulasi akan ada investor yang
menanamkan modalnya. Kualitas dan kuantitas infrastruktur di Indonesia sudah
tidak mampu mendorong percepatan pembangunan ekonomi padahal Indonesia sebentar
lagi akan memasuki era Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015 dimana semua ini menuntut
adanya infrastruktur yang memadai untuk menunjang percepatan pembangunan
ekonomi. Yang paling krusial adalah membenahi infrastruktur serta biaya
logistik, saat ini Indonesia biayanya mencapai 16% dari total biaya produksi
padahal normalnya hanya berkisar 9-10%.
2.5
Hambatan Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015
Hambatan yang dihadapi oleh pekerja
Indonesia untuk bekerja di negara ASEAN adalah mengenai bahasa dan perbedaan
peraturan kerja, maka perlu ditingkatkan kemampuan bahasa dan pemahaman
aturan di negara-negara ASEAN.
2.6
Langkah Strategis Dalam Menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA)
Pelaksanaan kesepakatan Masyarakat
Ekonomi ASEAN (MEA) 2015 sudah di depan mata. Indonesia harus mulai
mempersiapkan diri jika tidak ingin menjadi sasaran masuknya
produk-produk negara anggota ASEAN. Indonesia harus banyak belajar dari
pengalaman pelaksanaan free trade agreement (FTA) dengan China,
akibatnya China menguasai pasar komoditi Indonesia. Tidak ada pilihan lain
selain menghadapi dengan percaya diri bahwa bangsa Indonesia mampu dan menjadi
lebih baik perekonomiannya dalam keikutsertaan Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015
ini. Beberapa langkah strategis yang perlu dilaksanakan oleh pemerintah ialah
dari sektor usaha perlu meningkatkan perlindungan terhadap konsumen, memberikan
bantuan modal bagi pelaku usaha mikro, kecil dan menengah, memperbaiki
kualitas produk dalam negeri dan memberikan label SNI bagi produk dalam negeri
agar memiliki nilai ekspor sehingga mampu bersaing, mendorong swasta untuk
memanfaatkan pasar terbuka. Dalam sektor investasi, Indonesia dinilai akan
menjadi negara yang lebih banyak diuntungkan karena diharapkan investasi asing
mampu tumbuh pesat di Indonesia.
Dalam sektor tenaga kerja Indonesia
perlu meningkatkan kualifikasi pekerja, meningkatkan mutu pendidikan serta
pemerataannya dan memberikan kesempatan yang sama kepada masyarakat. Sektor
infrastruktur perlu adanya perbaikan infrastruktur fisik melalui
pembangunan atau perbaikan infrastruktur seperti transportasi,
telekomunikasi, jalan tol, pelabuhan, dan restrukturisasi industri.
Selain itu, perlu adanya sosialisasi kepada masyarakat luas mengenai adanya
Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015 sehingga masyarakat memiliki kesadaran yang
diharapkan mampu menumbuhkan rasa percaya diri dan kesiapannya ketika era
Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015 datang. Kita akan mampu menghadapi berbagai macam
tantangan dalam datangnya era Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015 apabila kita
mempunyai daya saing yang kuat, persiapan yang matang, sehingga produk-produk
dalam negeri akan menjadi tuan rumah dinegeri sendiri dan kita mampu
memanfaatkan kehadiran Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015 untuk kepentingan bersama
dan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.
2.7
Karakteristik Dan Unsur Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA)
Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA)
adalah realisasi tujuan akhir dari integrasi ekonomi yang dianut dalam Visi
2020, yang didasarkan pada konvergensi kepentingan negara-negara anggota ASEAN
untuk memperdalam dan memperluas integrasi ekonomi melalui inisiatif yang ada
dan baru dengan batas waktu yang jelas. dalam mendirikan Masyarakat Ekonomi
ASEAN (MEA), ASEAN harus bertindak sesuai dengan prinsip-prinsip terbuka,
berorientasi ke luar, inklusif, dan berorientasi pasar ekonomi yang konsisten
dengan aturan multilateral serta kepatuhan terhadap sistem untuk kepatuhan dan
pelaksanaan komitmen ekonomi yang efektif berbasis aturan.
Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) akan
membentuk ASEAN sebagai pasar dan basis produksi tunggal membuat ASEAN lebih
dinamis dan kompetitif dengan mekanisme dan langkah-langkah untuk memperkuat
pelaksanaan baru yang ada inisiatif ekonomi; mempercepat integrasi regional di
sektor-sektor prioritas; memfasilitasi pergerakan bisnis, tenaga kerja terampil
dan bakat; dan memperkuat kelembagaan mekanisme ASEAN. Sebagai langkah awal
untuk mewujudkanMasyarakatEkonomiASEAN.
pada saat yang sama, Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) akan mengatasi kesenjangan pembangunan dan mempercepat integrasi terhadap Negara Kamboja, Laos, Myanmar dan VietNam melalui Initiative for ASEAN Integration dan inisiatifregionallainnya.
Bentuk Kerjasamanya adalah :
pada saat yang sama, Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) akan mengatasi kesenjangan pembangunan dan mempercepat integrasi terhadap Negara Kamboja, Laos, Myanmar dan VietNam melalui Initiative for ASEAN Integration dan inisiatifregionallainnya.
Bentuk Kerjasamanya adalah :
- Pengembangan sumber daya manusia dan peningkatan kapasitas;
- Pengakuan kualifikasi profesional
- Konsultasi lebih dekat pada kebijakan makro ekonomi dan keuangan;
- Langkah-langkah pembiayaan perdagangan
- Meningkatkan infrastruktur
- Pengembangan transaksi elektronik melalui e-ASEAN
- Mengintegrasikan industri di seluruh wilayah untuk mempromosikan sumber daerah
- Meningkatkan keterlibatan sektor swasta untuk membangun Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA).
Pentingnya perdagangan eksternal
terhadap ASEAN dan kebutuhan untuk Komunitas ASEAN secara keseluruhan untuk
tetap melihat ke depan,
karakteristik utama Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA):
karakteristik utama Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA):
- Pasar dan basis produksi tunggal,
- Kawasan ekonomi yang kompetitif,
- Wilayah pembangunan ekonomi yang merata
- Daerah terintegrasi penuh dalam ekonomi global.
Karakteristik ini saling berkaitan
kuat. Dengan Memasukkan unsur-unsur yang dibutuhkan dari masing-masing
karakteristik dan harus memastikan konsistensi dan keterpaduan dari unsur-unsur
serta pelaksanaannya yang tepat dan saling mengkoordinasi di antara para
pemangku kepentingan yang relevan.
2.8
Dampak MEA Bagi Masyarakat
Terhitung sejak 2003-2013,
Penguasaan lahan oleh korporasi (dengan luas 5.000-30.000 Ha) mengalami
pertumbuhan sebesar 24,57%. Hal ini berakibat makin hilangnya akses petani
gurem dan kecil terhadap lahannya (luas lahan 0-5000) sebanyak 5.177.195.
Ketika MEA diberlakukan, maka para petani akan semakin termarginalkan karena
kalah bersaing dengan korporasi besar. Tak pelak, angka kemiskinan kaum tani
bahkan jumlah pengangguran pun semakin meningkat (Rahmi Hertanti, Indonesia For
Global Justice).
Belum lagi imbas persaingan produk
lokal dan impor. Dengan modal yang jauh lebih besar, dan penguasaan teknologi
canggih plus keberpihakan negara, maka negara besar dapat memproduksi barang jauh
lebih banyak, yang konsekuensinya dapat menghasilkan harga jual lebih rendah.
Sementara masyarakat pada umumnya memilih membeli produk yang lebih murah meski
impor, sehingga lambat-laun pengusaha lokal pun akan banyak yang gulung
tikar karena kalah saing.
Yang lebih berbahaya lagi adalah
jika korporasi asing dapat masuk menguasai sektor-sektor vital negara karena
kekuatan modal yang besar, maka barang-barang kepemilikan umum seperti
minyak bumi, gas bumi, dan barang tambang lain, serta sumber mata air dan hutan
akan menjadi milik mereka. Rakyat akan kehilangan haknya, sedangkan pemerintah
tidak bisa mengintervensi. Peran negara sebagai pelayan rakyat semakin
tereduksi, hanya berfungsi sebagai regulator saja.
Akhirnya, korporasi asing dapat
menyetir penguasa. Dengan mempengaruhi perpolitikan suatu negara untuk
menghasilkan kebijakan yang menguntungkan perusahaan serta negara asalnya,
walaupun itu harus mengorbankan jutaan rakyat lokal.
2.9
Konsep Ekonomi Islam Yang Menyejahterakan
Islam sebagai suatu ideologi/mabda’
yang berasal dari Allah Yang Maha Mengetahui memiliki tata ekonomi dunia yang
dapat menyejahterakan. Sistem ekonomi ini diterapkan oleh Institusi
Pemerintahan Islam dalam bentuk Khilafah Islamiyah, yang memiliki karakteristik
sebagai junnah (pelindung) dan raa’in (pengatur).
Prinsip Khilafah dalam mengelola
kehidupan publik:
- Pemerintah bertanggung jawab penuh dalam pengelolaan pemenuhan hajat hidup publik.
- Anggaran mutlak untuk pengeluaran kemaslahatan publik dan fasilitas umum, yang ketiadaannya mengakibatkan kemudharatan
- Institusi pemerintah penyedia barang dan jasa hajat hidup publik adalah perpanjangan tangan negara.
- Negara tidak dibenarkan mengambil pemasukan dari fasilitas umum seperti rumah sakit, sarana dan prasarana transportasi publik, termasuk jalan umum.
- Industri-industri barang publik berstatus milik umum wajib mengutamakan fungsi pelayanan dari pada fungsi bisnis.
- Tidak dibenarkan model kemitraan pemerintah swasta,KPS (Puclic Private Partnership, P3S).
- Kekuasaan bersifat sentralisasi, administrasi bersifat desentralisasi.
- Independent terhadap agenda politik hegemonik. Serta anti Penjajahan.
- Strategi pelayanan mengacu pada tiga hal, yaitu : Kesederhanaan aturan; Kecepatan layanan; Dilakukan oleh individu yang kompeten dan capable.
- Karakter penguasa, Kepemimpinan (Syakhsyiyah mas’uliyah) : Taqwa, Rafiq (lemah lembut), hubungan dilingkupi ketulusan, tidak menyentuh sedikitpun harta kekayaan umum, memerintah dengan Islam
- Hanya khilafah, bagian integral system kehidupan Islam.
Prinsip dasar perdagangan
internasional Khilafah :
- Dalam perdagangan luar negeri (foreign trade), Negara Khilafah akan campur tangan untuk mencegah dikeluarkannya beberapa komoditi dan membolehkan beberapa komoditi lain, serta campur tangan terhadap para pelaku bisnis Kafir harbi dan mu’ahid
- Dalam perjanjian perdagangan luar negerinya, Negara Khilafah membuat kesepakatan berdasarkan asas kewarganegaraan pedagang, bukan asas komoditas
Oleh karena itu, para pelaku bisnis
yang keluar masuk wilayah Negara Khilafah, terbagi menjadi 3 kelompok dengan
perlakuan berbeda : Warga Negara Khilafah (baik muslim maupun non muslim ahli-dzimmah),
Orang-orang Kafir mu’ahid, Orang-orang Kafir harbi.
Kemampuan khilafah Islam dalam
menerapkan sistem pemerintahan dan ekonomi seiring dengan pandangan Islam yang
sangat bertentangan dengan prinsip-prinsip kapitalisme serta sistem demokrasi
yang telah gagal menyejahterakan masyarakat dunia.
Sejarawan Will Durant menuturkan
kebijakan perdagangan Khilafah Abbasiyyah di era Harun al-Rasyid “Di antara
keistimewaan ekonomi yang dinikmati oleh wilayah Asia Barat (Timur Tengah)
adalah adanya satu pemerintahan yang menguasai kawasan ini, di mana sebelumnya
telah terbelah menjadi empat negara. Dampak dari kesatuan wilayah ini adalah
hilangnya semua halangan tarif dan tax, serta halangan-halangan perdagangan
yang lain di dalam negeri. Ini ditambah dengan fakta, bahwa bangsa Arab tidak
seperti bangsawan Eropa yang selalu memalak pedagang dan memeras mereka.
Aktivitas perdagangan ini terus berlanjut, dan berhasil menghembuskan kehidupan
yang kuat di seluruh penjuru negeri hingga puncaknya pada abad ke-10. Di saat
Eropa masih mengalami kemunduran hingga pada level terendah. Ketika perdagangan
ini telah tiada, jejak-jejaknya masih tersisa dan tampak jelas dalam sejumlah
bahasa Eropa, di mana sejumlah kosakata telah masuk di dalamnya. Seperti
Tariff, Magazine, Cravan dan Bazaar.”
2.9.1 Kesiapan
indonesia dalam menghadapi MEA 2015
Peluang Indonesia untuk dapat
bersaing dalam MEA 2015 sebenarnya cukup besar, saat ini Indonesia merupakan
peringkat 16 di dunia untuk besarnya skala ekonomi. Besarnya skala ekonomi juga
didukung oleh proporsi penduduk usia produktif dan pertumbuhan kelas menengah
yang besar. Prospek ekonomi Indonesia yang positif juga didukung oleh.
Perbaikan peringkat investasi indonesia oleh lembaga pemeringkat dunia serta
masuknya indonesia sebagai peringkat empat prospective destinations berdasarkan
UNCTAD World Investment report. Masih kuatnya fundamental perekonomian
Indonesia dapat dilihat ketika banyak negara yang “tumbang” diterpa pelemahan
perekonomian global , perekonomian indonesia masih dapat terjaga untuk tumbuh
positif. Untuk mewujudkan peluang MEA 2015, sudah saatnya kita berbenah dan
melakukan tindakan-tindakan efektif dan terarah yang didukung oleh berbagai
pihak. Dari 12 sektor prioritas yang akan diimplementasikan pada MEA 2015, kita
harus dapat menginventarisir sektor-sektor potensial yang menjadi unggulan.
Beberapa negara-negara ASEAN sudah
mempersiapkan diri, seperti Thailand, Singapura, Malaysia dan Indonesia.
Persiapan yang dilakukan oleh Indonesia pun masih sekitar 84% dan ini masih
terus bertambah. kemajuan Indonesia harus perlu dipertajam agar bisa
mengambil manfaat terbesar dari terbentuknya MEA. “Tingkat score card nasional
kita 84%. Tingkat pelaksanaan MEA masih seusai rencana. Namun, tingkat kesiapan
kita perlu semakin dipertajam agar Indonesia menjadi pemenang,” ndonesia
sendiri berambisi untuk menjadi pemenang MEA, karena pemerintah telah
mempersiapkan diri melalui pembentuan ASEAN Economic Committee yang melibatkan
pemerintah dan dunia usaha. Menteri Luar Negeri, Marty Natalegawa
mengungkapkan, “pemerintah terus mempertajam pilar pembentukan Komite Ekonomi
ASEAN 2015, antara lain di bidang politik dan keamanan, ekonomi dan budaya”.
Akan tetapi saingan berat Indonesia
datang dari Thailand, Singapura dan Malaysia. Karena ketiga negara ini pesaing
terberat dalam bidang ansuransi. Seperti yang di katakan Presiden Direktur PT
JLT Arman Juffry, “semua kalangan harus siap menghadapi MEA pada 2015 termasuk
kesiapan yang datang dari industri asuransi. Setidaknya akan ada tiga negara
yang menjadi pesaing berat bagi Indonesia.”
Selain itu dikarenakan,
negara-negara seperti Singapura, Malaysia, dan Indonesia akan berkembang
sebagai pusat-pusat bisnis regional. Adapun negara-negara seperti
Vietnam, Laos, dan Myanmar di-set untuk menjadi pusat-pusat manufaktur.
Sehingga perusahaan-perusahaan memanfaatkan perubahan yang terjadi di
ASEAN tersebut untuk menciptakan efisiensi. Selain itu, mereka juga menyadari
penghematan biaya akan mengembangkan manfaat yang kompetitif.
Dapat dikatakan bahwa Indonesia
masih belum sepenuhnya siap untuk menghadapi MEA, dikarenakan factor
infrasruktur yang masih perlu dibenahi dan perlunya sosialisasi kepada
pengusaha (kecil, menengah dan besar) dan pekerja serta masyrakat.
2.9.2 Pendapat
Masyarakat Indonesia Dalam Menanggapi MEA
Karena masih banyak masyarakat dan
pengusaha serta pekerja yang masih belum mengetahui tentang MEA. Padahal dalam
kurang dari setahun lagi MEA akan dimulai. Oleh karena itu pemerintah harus
bekerja sama untuk mempersiapkan Indonesia untuk menghadapi MEA. Jangan hanya
mengandalkanKementrian Perdagangan saja. kemudian Badan Standarisasi Indonesia
(BSN) juga perlu membuat standar kualitas yang dihasilkan oleh produksi
Indonesia agar dapat bersaing dengan anggota ASEAN lainya. Tapi sebagian yang
telah mengetahui berpendapat bahwa berjalannya MEA akan memajukan perekonomian
nasional dan membawa dampak positif
pada kesejahteraan masyarakat. Beberapa alasan yang
diutarakan: (1) Indonesia sudah siap
bersaing dengan negara ASEAN; (2)
Lapangan kerja semakin banyak; (3)
Meningkatkan daya saing Indonesia di mata dunia; (4)
Memaksimalkan potensi Indonesia; (5)
Mempererat hubungan antar negara ASEAN. (http://www.academia.edu).
2.9.3 Peluang
Ekonomi Islam Dalam Menghadapi MEA
- Pasar potensi dunia
Perwujudan AEC 2015 akan menempatkan
ASEAN sebagai kawasan pasar terbesar ketiga disunia yang di dukung oleh jumlah
penduduk ketiga terbesar (8 persen dari total penduduk dunia) stelah china dan
india.
- Pasar potensi dunia
Perwujudan AEC 2015 akan menempatkan
ASEAN sebagai kawasan pasar terbesar ketiga disunia yang di dukung oleh jumlah
penduduk ketiga terbesar (8 persen dari total penduduk dunia) stelah china dan
india.
- Negara pengekspor.
Dengan meningkatnya harga komoditas
internasional, sebagian besar negara ASEAN mencatat surplus pada neraca
transaksi berjalan. Prospek perekonomian yang cukup baik menyebabkan ASEAn
menjadi tempat tujuan investasi.
- Negara tujuan investor
rangka AEC 2015 berbagai kerja sama
regional untuk meningkatkan infrastruktur ( pipa gas, teknologi informasi )
maupun dari sisi pembiyaan menjadi agenda. Kesempatan tersebut membuka peluang
bagi perbaikan iklim indonesia.terutama dalam melancarkan infrastruktur
domestik.
- Daya saing
Liberalisasi perdagangan barang
ASEAN akan menjamin kelancaaran arus barang untuk pasokan bahan baku maupun
bahan jadi dikawasan ASEAN karena hambatan tarif non tarif yang tidak ada lagi.
- Sektor jasa yang terbuka.
Sektor-sektor jasa yang telah
ditetapkan yaitu pariwisata, kesehatan, penerbangan, dan e-ASEAN dan kenudian
akan disusul dengan logistik.
- Aliran Modal
Dari sisi aliran modal asing, ASEAn
sebagai kawasan dikenal sebagai tujuan penanaman modal global, termasuk CLMV
khususnya Vietnam.
2.9.4 Tantangan
Ekonomi Islam Dalam Menghadapi MEA
- Laju peningkatan Ekspor dan Impor
Tantangan yang dihadapi oleh
indonesia memasuki ekonomi ASEAN tidak hanya yang bersifat internal di dalam
negeri tetapi terlebih lagi persaingan dengan negara sesama ASEAN dan negara
lain di luar ASEAN seperti China dan India.
- Laju Inflasi
Tantangan lainnya adalah laju
inflasi Indonesia yang masih tergolong tinggi bila bandingkan dengan negara
lain dikawasan ASEAN. Stabilitas makro masih menjadi kendala peningkatan daya
saing indonesai dan tingkat kemakmuran indonesia juga masih lebih rendah
dibandingkan negara lain.
- Dampak negatif Arus Modal yang Lebih Luas.
Arus modal yang lebih bebas untuk
mendukung transaksi keuangan yang lebih efisien, merupakan salah satu sumber
pembiayaan pembangunan, memfasilitasi perdagangan Internasional, mendukung
pengembangan sektor keuangan dan akhirnya meningkatkan pertumbuhan ekonomi
suatu negara.
- Kesamaan Produk
Kesamaan jenis produk ekspor
unggulan (sekotr pertanian, perikanan, produk karet, produk berbasis kayu, dan
elektronik ) merupakan salah satu penyebab pangsa perdagangan intra-ASEAN yang
hanya berkias 20-25 persen dari total perdagangan ASEAN. Indonesia perlu
melakukan strategi peningkatan nilai tambah bagi produk nilai ekspornya
sehingga mempunyai karakteristik tersendiri dengan produk dari Negara-Negara
ekonomi.
- Tingkat perkembangan Ekonomi
Tingka perkembangan ekonomi negara
negara ASEAN hingga saat ini masih beragam. Tingkat kesenjangan yang tinggi
merupakan salah satu masalah di kawasan yang cukup mendesak untuk dipecahkan
agar tidak menghambat percepatan kawasan menuju MEA (2015)
- Produk Makanan Haram
Kemungkinan banyak masuknya produk
makanan yang belum terjamin kehalalnnya. Yang dalam kata lain masyarakat harus
lebih berhati-hati dalam membeli makanan daari negara lain.
- Kegiatan IKM (makanan dan minuman)
Dapat bersaing dalam kegiatan IKM
dalam MEA (2015) sehingga tidak ada bertambahnya pengangguran disisi IKM
(makanan dan muniman)
- Lapangan perkejaan
lapangan tenaga kerja yang ada di
Indonesia hanya akan menaikkan angka pengangguran itu sendiri, karena tidak
berdampak pada peningkatan taraf hidup masyarakat Indonesia, khususnya buruh
yang tidak memiliki sertifikasi pendidikan seperti buruh-buruh yang didatangkan
dari China, bahkan Vietnam yang tidak lebih baik tingkat kesejahteraan
pekerjanya dari Indonesia.
BAB III
PENUTUP
3.1
Kesimpulan
Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015 bukan
hanya sekedar tempat bertemunya semua negara ASEAN tapi bisa dilihat sebagai
ajang pertandingan ekonomi. Mengenai kesiapan Indonesia dalam menghadapi
Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015 mungkin banyak penilaian bahwa Indonesia
belum siap tapi terlepas dari kesiapan Indonesia sangat mempunyai potensi dan
juga modal yang kuat karena memiliki wilayah geografis yang luas serta
ditunjang dengan Sumber Daya Alam yang melimpah, apabila dapat dikelola dengan
baik bukan hal yang tidak mungkin Indonesia menjadi pemenang di era perdagangan
bebas nanti. Dari sisi lain kita harus menghilangkan keraguan dan kekhawatiran
mengenai kurang siapnya SDM di Indonesia, Infrastruktur, serta ketakutan akan
matinya sektor usaha khususnya kelas mikro, kecil dan menengah. Semua itu mempunya
jalan keluar yang sudah bisa direalisasikan hanya butuh kesadaran,
komitmen, fokus dan kerja keras dari semua pihak untuk bersama-sama
mensukseskan program ini, sehingga Indonesia akan mendapatkan manfaat lebih
banyak yang tercermin dari tumbuh pesatnya pembangunan ekonomi di Indonesia.
Beberapa tantangan MEA,
seperti lapangan tenaga kerja yang ada di Indonesia hanya akan menaikkan angka
pengangguran itu sendiri, karena tidak berdampak pada peningkatan taraf hidup
masyarakat Indonesia, khususnya buruh yang tidak memiliki sertifikasi
pendidikan seperti buruh-buruh yang didatangkan dari China, bahkan Vietnam yang
tidak lebih baik tingkat kesejahteraan pekerjanya dari Indonesia. Bila
Indonesia tidak siap, maka aliran bebas barang, jasa, investasi, tenaga kerja
terampil dan modal, terlihat sebagai ancaman daripada peluang. Tantangan
lainnya adalah jurang horizontal antara negara dengan kelas ekonomi maju dan
yang masih menengah dan maju. Jurang vertikal antara negara yang demokratis
liberal dan masih otoriter. Bagaimana kita membangun komunitas kalau
nilai-nilai yang menjadi pengikat berbeda dan taraf kehidupan berbeda. ASEAN
Economic Community yang dibentuk dengan misi menjadikan perekonomian di ASEAN
menjadi lebih baik serta mampu bersaing dengan Negara-negara yang
perekonomiannya lebih maju dibandingkan dengan kondisi Negara ASEAN saat ini.
Selain itu juga dengan terwujudnya ASEAN Community yang dimana di dalamnya
terdapat AEC, dapat menjadikan posisi ASEAN menjadi lebih strategis di kancah
Internasional, kita mengharapkan dengan terwujudnya komunitas masyarakat
ekonomi ASEAN ini dapat membuka mata semua pihak, sehingga terjadi suatu dialog
antar sektor yang dimana nantinya juga saling melengkapi diantara para
stakeholder sektor ekonomi di Negara negara ASEAN ini sangat penting. Tantangan
Indonesia ke depan adalah mewujudkan perubahan yang berarti bagi kehidupan
keseharian masyarakatnya. Semoga seluruh masyarakat Indonesia kita ini bisa
membantu untuk mewujudkan kehidupan ekonomi dan sosial yang layak agar kita
bisa segera mewujudkan masyarakat ekonomi ASEAN tahun2015.
Peluang yang sudah terbuka ini, kalau tidak segera dimanfaatkan, kita akan tertinggal, karena proses ini juga diikuti gerak negara lain dan hal itu terus bergulir. Kita harus segera berbenah diri untuk menyiapkan Sumber Daya Manusia Indonesia yang kompetitif dan berkulitas global. Menuju tahun 2015 tidaklah lama, Sudah siapkah kita akan Tantangan dan peluang bagi kalangan profesional muda kita/mahasiswa untuk tidak terbengong-bengong menyaksikan lalu-lalang tenaga asing di wilayah kita?. Bapak I Wayan Dipta, Deputi Bidang Pengkajian Sumberdaya UKM menyampaikan apabila Indonesia tidak mendorong daya saing dan nilai tambah atas barang/produk yang diproduksi, maka Indonesia dapat kehilangan perannya di kawasan dan menjadi objek kemajuan pembangunan di kawasan tanpa memperoleh keutungan yang maksimal.
Peluang yang sudah terbuka ini, kalau tidak segera dimanfaatkan, kita akan tertinggal, karena proses ini juga diikuti gerak negara lain dan hal itu terus bergulir. Kita harus segera berbenah diri untuk menyiapkan Sumber Daya Manusia Indonesia yang kompetitif dan berkulitas global. Menuju tahun 2015 tidaklah lama, Sudah siapkah kita akan Tantangan dan peluang bagi kalangan profesional muda kita/mahasiswa untuk tidak terbengong-bengong menyaksikan lalu-lalang tenaga asing di wilayah kita?. Bapak I Wayan Dipta, Deputi Bidang Pengkajian Sumberdaya UKM menyampaikan apabila Indonesia tidak mendorong daya saing dan nilai tambah atas barang/produk yang diproduksi, maka Indonesia dapat kehilangan perannya di kawasan dan menjadi objek kemajuan pembangunan di kawasan tanpa memperoleh keutungan yang maksimal.
3.2
Saran
Menurut penulis dalam menghadapi MEA
dengan sistem ekonomi Islam. Hanya dengan Islam, Indonesia akan menjadi
sejahtera dan terlepas dari berbagai permasalahan yang mendera saat ini. Jika
Indonesia menerapkan Islam, maka seperti janji Allah, Allah pasti akan
menurunkan keberkahan. Dan meningkatkan SDM yang berkualitas serta meningkatkan
pemahaman bahasa Asing terhadap Masyarakat Indonesia. Dalam hal ini indonesia
harus membuat satu sistem baru terhadap Masyarakat keterbelakangan ekonomi
dalam meningkatkan Kualiatas SDM.
Atas dasar itu, tak ada alasan bagi
seorang muslim melirik solusi selain sistem Islam untuk menjadi tatanan ekonomi
dunia. Ketika ia menyatakan beriman pada Allah, sudah sepatutnya pula keimanan
itu mengembalikan pemahamannya terhadap Islam sebagai ideologi (tatanan
kehidupan) dengan pemahaman yang benar.
Sudah saatnya kaum muslimin
mengembalikan penerapan Islam Ideologi dalam sistem Khilafah Islamiyah yang
ditetapkan oleh nash syara’, bukan sistem demokrasi buatan manusia. Khilafah
Islamiyah institusi Islam yang terbukti hampir 13 abad mampu mewujudkan tatanan
kehidupan dunia yang menyejahterakan dan menghantarkan Islam sebagai rahmatan
lil ‘alamin. Saatnya kembali kepada Islam dengan mengikuti toriqoh Rasulullah
SAW dalam menegakkan khilafah Islamiyah dalam suatu pergerakan politik di
seluruh dunia bersatu dengan satu tujuan yang sama.
Jika Indonesia mampu mengantisipasi,
pengaruh liberalisasi akan mengarah pada efisiensi pasar jasa. Dampaknya adalah
pilihan bagi konsumen meningkat, produktivitas meningkat, serta persaingan yang
lebih sehat di dorong. Pencapaian MEA dilakukan melalui empat tahapan
strategis, meliputi : pencapaian pasar tunggal dan kesatuan basis produksi,
kawasan ekonomi yang berdaya saing, pertumbuhan ekonomi yang merata dan
terintegrasi dengan perekonomian global. Menghadapi tantangan itu HIPMI mulai
menyiapkan sejumlah langkah menghadapi persaingan ekonomi pada 2020. “Indonesia
harus menjadi pemain dalam komunitas ekonomi ASEAN.
Ditingkatkan kualitas industri
kegiatan menengah (IKM) dalam sisis makanan dan munuman. Karena pada indonesia
sendiri kegiatan ini sering terjadi masalah. Dalam hal kebersihan maupun
kehigienisan dalam pengemasan. Apakah dalam hal ini dapat bersiang di pasar
ASEAn padahal lebih dari 2 juta lebih kegiatan IKM beroperasi di Indonesia dan
mempunyai lebih dari 4 juta tenaga kerja. Jika tidak dapat bersaing maka
pengangguran akan bertambah. Dalam hal ini indonesia harus menemukan solusi
dalam menanggapi hal prospek kedepan IKM terhadap MEA 2015.
http://jakartagreater.com/masyarakat-ekonomi-asean-2015/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar